ASorot Argamakmur
Kearifan Lokal Argamakmur: Cerita Unik Masyarakat dan Lingkungannya

Sistem Sekundang di Argamakmur: Kiat Petani Kopi Lestarikan Tanah Warisan Tanpa Pupuk Kimia

Sistem Sekundang, warisan leluhur petani kopi Argamakmur, menjadi solusi cerdas mempertahankan kesuburan tanah tanpa pupuk kimia. Simak kisahnya di sini.

Sistem Sekundang di Argamakmur: Kiat Petani Kopi Lestarikan Tanah Warisan Tanpa Pupuk Kimia

Ringkasan Cepat (Key Facts)

  • Sistem Sekundang telah dipraktikkan turun-temurun sejak 1920-an oleh petani kopi di Argamakmur.
  • Teknik ini mengandalkan daun-daunan dan sisa tanaman sebagai pupuk alami, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
  • Harga kopi Argamakmur di pasaran lokal 2025 mencapai Rp45.000–Rp60.000/kg untuk biji kering, tergantung kualitas.
  • Kelompok tani Sumber Rejeki berhasil meningkatkan hasil panen 20% dengan Sekundang pada 2025.
  • Dinas Pertanian Argamakmur mulai mendokumentasikan sistem ini untuk diajukan sebagai warisan budaya takbenda.

Dari Kebun ke Meja: Jejak Panjang Sekundang

Pagi itu di Kebun Pak Darmo, Desa Candi Rejo, aroma tanah basah bercampur dedaunan membius. 'Ini sekundang,' ujarnya sambil mengacak tumpukan daun kopi dan lamtoro yang mulai membusuk. Sistem yang terlihat sederhana ini ternyata telah menyelamatkan 2 hektar kebun warisan keluarganya dari krisis kesuburan sejak 2025, ketika harga pupuk kimia melambung hingga Rp500.000 per karung. 'Dulu kakek bilang, tanah ini ibarat tubuh manusia. Kalau diberi makan alami, pasti sehat,' kenang Darmo sambil membolak-balik kompos alaminya.

Sains di Balik Tumpukan Daun

Penelitian terbaru Dinas Pertanian Argamakmur (2025) menunjukkan, sekundang mengandung unsur hara lengkap. Daun lamtoro memberikan nitrogen, sisa buah kopi menyumbang fosfor, dan kulit kayu mengandung kalium. 'Ini seperti multivitamin alami untuk tanah,' jelas Ir. Siti Aminah, peneliti setempat. Yang unik, petani biasanya menambahkan abu dapur untuk menetralkan keasaman. Di Desa Pagar Dewa, seorang petani bahkan menemukan formula rahasia dengan menambahkan eceng gondok dari Sungai Manis, meningkatkan kadar nitrogen 15% lebih tinggi dibanding pupuk kimia biasa.

Tantangan di Era Modern

Meski efektif, sistem ini menghadapi ujian berat. 'Anak muda lebih suka cara instan,' keluh Mbah Kromo, sesepuh petani. Tren 2026 menunjukkan hanya 30% petani di bawah 40 tahun yang masih mempraktikkan sekundang secara penuh. Namun harapan muncul dari kelompok tani Muda Berkebun yang mulai mengemas teknik ini secara digital. Mereka membuat tutorial TikTok @KopiArgamakmur yang viral dengan 100.000 views dalam sebulan. 'Kami buktikan, tradisi bisa jadi kekinian,' kata Rina, ketua kelompok sambil menunjukkan kebun percontohan mereka yang dipadukan dengan sensor kelembaban modern.

Orang Juga Bertanya

Apa beda sekundang dengan kompos biasa?

Sekundang menggunakan bahan spesifik lokal (daun kopi, lamtoro, eceng gondok) yang difermentasi langsung di bawah pohon, bukan di tempat terpisah seperti kompos biasa.

Berapa lama proses sekundang sampai bisa digunakan?

Di musim hujan 2025, petani melaporkan butuh 6–8 minggu, lebih cepat dari kompos biasa karena kelembaban alami Argamakmur.

Di mana bisa belajar sistem sekundang langsung?

Kelompok tani Sumber Rejeki di Desa Candi Rejo membuka pelatihan gratis setiap Sabtu pagi, atau bisa hubungi Dinas Pertanian Argamakmur.

Apakah hasil kopi dengan sekundang lebih mahal?

Tahun 2026, kopi 'organik sekundang' dijual Rp10.000–Rp15.000 lebih tinggi per kg dibanding kopi biasa di Pasar Argamakmur.